Cerpen “SMANSADASE Mengapung”.
Sembuluh Dua, 24 Juli 2017 17.00 WIB Oleh : Silpanus “Tolooooongg, aku tenggelam? teriak bu Nopi Sinar mentari pagi perlahan menerangi tapak demi tapak setiap jalan yang di lalui oleh rombongan guru SMANSADASE yang saat itu sedang menuju ujung pandaran, nampak mobil putih berlabel mobilio dan rush hitam meluncur menelusuri sepanjang jalan desa sembuluh menuju sampit, jam menunjukan pukul setengah lima pagi nampak mobil honda putih itu melaju kencang ketika tiba di jalan beraspal meninggalkan rush hitam yang masih berjibaku dengan tanah latrit, “Memang supir mantab pa yasir itu?”. Ujar pa. Kinoy yang nampak mabuk perjalanan. “Sing ada lawan we?”. Balas pa Iful yang duduk di sebelahnya. Perjalanan masih jauh, sementara beberapa orang guru yang lain sudah menunggu di sampit sesuai dengan waktu yang ditentukan. “Bu Dibe, gimana logistik kita, apa sudah siap?”. Ujar bu Santi lewat telpon selulernya. “Sudah siap, yang belum cuma nunggu nasi aja?”. Balas bu Dibe. “Kalau gitu, k...